PROSES BERPIKIR REFRAKSI SISWA MENYELESAIKAN
MASALAH DATA „MEMBUAT KEPUTUSAN‟

Penelitian tentang data telah banyak memperoleh perhatian dari beberapa peneliti (Van de Wall, 2006; Curcio, 2001; Harper, 2004; Machester, 2002; McClain, 2000; UNCMSE; 1997). Dari hasil kajian tersebut, diperoleh beberapa temuan antara lain: kesalahan siswa membuat
grafik karena salah mengolah data, kesulitan merancang pertanyaan yang tepat dalam mengumpulkan data sehingga mempengaruhi siswa dalam membuat keputusan. Secara prosedur, data sering dianggap sebagai “bilangan” (Cobb, 1999). Siswa tidak memandang data sebagai “ukuran” dari situasi tentang kesimpulan yang harus dibuat. Siswa sering menggunakan prosedur statistika secara “buta” seperti menghitung rata-rata dan menjumlahkan tanpa memperhatikan konteks yang diberikan. Doerr (2003) mengembangkan model untuk menghindari terjadinya misleading, antara lain: interpretasi, deskripsi, dugaan, penjelasan dan evaluasi (pembenaran terhadap penyelesaian karena adanya interaksi terhadap siswa lain). Pagano dan Roselle (2009) mengidentifikasi tahap tersebut sebagai berpikir refraksi yang dikonstruksi dari refleksi dan berpikir kritis.


Downey (2005) menggunakan metaphor cahaya untuk menggambarkan proses refraksi yang dihasilkan dari refleksi menuju berpikir kritis (Gambar 1). Refraksi merupakan suatu proses dimana cahaya (refleksi) membentur medium sehingga menyebabkan “reaksi” pada
medium yang memicu terjadinya berpikir kritis. Menurut Pagano & Roselle (2009); Medeni (2012), refraksi terjadi karena adanya refleksi yang “diisyaratkan” dengan cahaya melewati suatu medium yang memicu terjadinya berpikir kritis, sehingga cahaya yang keluar dari medium
tidak sama seperti refleksi. Hal ini berarti, komponen yang dilewati terjadinya berpikir berpikir refraksi adalah refleksi dan berpikir kritis.

Pagano dan Roselle (2009) menyatakan bahwa refraksi merupakan suatu proses
perubahan pengetahuan (transformation knowledge) yang mengandalkan pengalaman dan pengetahun yang dimiliki siswa sehingga memunculkan persepsi baru. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki siswa memungkinkan untuk “dibingkai” sehingga memperoleh makna baru dalam menyelesaikan masalah. 

Secara umum, pengalaman siswa terhadap data harus melibatkan dengan konsep nyata, di mana konsep data yang nyata akan memberikan kemungkinan terhadap siswa dalam memahami hubungan matematis dengan konsep, display, dan prosedur statistika (Burrill & Romberg, 1998; Garfield & Gal, 1999). Ketika seseorang menghadapi masalah, kemungkinan siswa akan dipengaruhi oleh pengalamannya dalam menyelesaikan masalah. Kolb (1984) menjelaskan bahwa pengalaman siswa dalam belajar dapat di terjemahkan dalam konsep refleksi. Siswa dapat membuat konsep dan memodifikasi serta menerapkan konsep tersebut dalam kasus lain dari pengalaman, sehingga hasil dari pengalaman siswa akan mengarahkan ke solusi atau alternatif solusi atas masalah yang diselesaikan.

BERPIKIR REFLEKTIF SEBAGAI AWAL TERJADINYA BERPIKIR REFRAKSI

Pagano dan Roselle (2009) menyatakan bahwa terjadinya refraksi melalui berpikir reflektif dan berpikir kritis. Hal ini berarti, berpikir reflektif merupakan awal terjadinya berpikir refraksi. Refleksi atau yang dikenal dengan berpikir reflektif merupakan salah satu dalam proses
berpikir yang dianggap penting dalam membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman seseorang. Berpikir reflektif dapat diartikan sebagai proses berpikir untuk “menyadari” yang didasarkan pada pengalaman dan kemudian menfasirkannya (Atkins dan Murphy, 1994).

Dalam mengkonstruksi berpikir refraksi, terlebih dahulu perlu dikaji komponen berpikir reflektif dan berpikir kritis. Kajian ini membahas tentang konstruksi berpikir refektif sebagai awal terjadinya berpikir refraksi yang didasarkan pada pengertian dan pemikiran dari berpikir
reflektif dalam matematika. Sebelumnya perlu disetarakan beberapa komponen berpiki reflektif yang ada, yaitu komponen berpikir reflektif Lee (2005) yang disingkat (KRL); berpikir reflektif Zehavi dan Mann (2006) yang disingkat (KRZ), berpikir reflektif Jansen dan Spitzer (2009)
yang disingkat (KRJ) dan berpikir reflektif Rosen (2010) yang disingkat (KRR). Berdasarkan adanya kesamaan indikator pada komponen berpikir reflektif, maka Prayitno (2014) mengkonstruksi berpikir reflektif. Adapun hasil kontruksi berpikir reflekti terdapat pada tabel
berikut.

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh kontruksi berpikir reflektif dengan alasan sebagai berikut:

  1. Komponen Selection of techniques dan monitoring of the solution process pada KRZ; komponen Deskripsi pada KZL dan komponen Location and definition of the problem dan Recognize or felt difficulty pada KRR serta Recall pada KRL merupakan bagian dari berpikir reflektif yang sifatnya hanya menafsirkan situasi berdasarkan ingatan dan menggambarkan informasi yang diperoleh seseorang sebelum menyelesaikan masalah, maka komponen tersebut dapat disebut sebagai description of problem.
  2. Komponen define the problem dapat dikatakan sebagai komponen yang menafsirkan informasi secara rasional dan menghubungkan konsep dengan pengetahuan sehingga dapat mendefinisikan masalah. Komponen ini merupakan kontruksi dari rasionalisasi pada KRL, conceptualization pada KRZ, interpretasi pada KRJ, dan the mental elaboration of the idea or supposition pada KRR.
  3. Komponen reflectivity, insight or ingenuity, dan Suggestion of possible solution indikatornya adalah pengajuan beberapa alternatif berdasarkan kumpulan ide terhadap informasi, sehingga dapat disebut sebagai Collection of information.
  4. Conclution belief dapat pula disejajarkan dengan Testing the hypothesis by overt or imaginative action karena pada bagian ini adalah membuat hipotesis atau kesimpulan yang diyakini kebenarannya.

Share:

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Call