Guru sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara

Kemajuan peradaban suatu bangsa tidak bisa lari dari campur-tangan dari guru. Guru adalah pekerjaan bidang jasa yang perlu selalu ditinggikan harkat dan martabatnya oleh kredibilitas dan kreativitas guru itu sendiri. Di jaman generasi Z sekarang sudah semakin hilang fungsi guru yang bercokol pada keilmuan saja. Perubahan zaman juga akan turut merubah paradigma pendidikan suatu bangsa seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa setiap siswa akan mendapat pendidikan sesuai dengan Kodrat zaman siswa tersebut. Tidaklah layaklah sekarang seorang guru merasakan bahwa ilmu pengetahuan yang didapatkan oleh siswa di kelasnya kita tidak menutup mata bahwa banyaknya bertaburan ilmu pengetahuan di zaman serba online sekarang ini. Jadi fungsi guru apakah sudah bergeser saat ini? Iya benar fungsi guru di jaman serba manual bahwa guru masih berperan 100% memberikan ilmu pengetahuan itu kepada siswa. Namun pada zaman generasi Z sekarang ini dimana peserta didik sudah melek teknologi guru hanya pelengkap untuk menimba ilmu sesuai dengan kodrat yang dibutuhkan oleh siswa masing-masing. Dari segi pembelajaran keilmuan tugas guru mengarahkan dan berdiskusi dengan siswa.

Akankah hilang peran guru dari dunia bangku pendidikan? Tidak akan hilang fungsi guru tapi bergesernya fungsi guru sesuai kodrat alam dan kodrat jaman yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara adalah bapak Pendidikan Bangsa Indonesia yang telah membuka teori dan aksi nyata di jaman bahwa bagaimana pendidikan itu akan bergeser nantinya sesuai dengan perkembangan zaman yaitu selalu memiliki dua sisi yaitu Kodrat Alam dan Kodrat Zaman. Kodrat zaman seperti kita ketahui bahwa siswa mempunyai zamannya masing-masing dan inilah yang harus disadari oleh semua guru. Tidak ada strategi dan metode yang menetap untuk proses pembelajaran pada siswa. Contoh kecil penulis zaman millenial mengenyam dunia pendidikan masih menggunakan spidol di papan tulis dan generasi sebelum millenial menggunakan kapur tulis dan kita lihat pada pendidikan generasi Z saat ini semua serba cepat dan instan karena tidak zamannya lagi siswa menerima tulisan dipapan tulis dan mencatat dibuku tapi guru diharuskan zamannya sepertinya mengirimkan softcopi ke dunia online untuk di-download siswa ataupun disimpan ulang siswa pada cloud yang juga disediakan oleh negara ataupun pihak swasta lainnya. Seperti penulis yang merupakan Narasumber Microsoft dalam pelatihan Office 365 dalam domain guruinovatif.com dan Narasumber Google dalam akun belajar.id yang diberikan oleh kementerian pendidikan riset dan teknologi dimana masing-masing memberikan cloud 5 TB (5000 GB) hal ini dengan tidak langsung negara sudah mendorong guru supaya melek teknologi sesuai zamannya saat ini.

Keadaan zaman yang berubah akan turut juga merubah alam terkhusus dunianya siswa. Dunianya siswa merupakan data yang harus dimiliki setiap guru. Yang termasuk dunianya siswa adalah lingkungan kehidupan siswa haruslah seorang mengkaji dan mengkategorikannya untuk memberikan pembelajaran yang bagaimana yang layak untuk seorang siswa tersebut. Hal ini merupakan bagian tersulit untuk dimiliki setiap guru karena masih adanya tersembunyi membicarakan tentang siswa diantara orangtua dan guru. Guru mencoba untuk mengerti bagaimana kehidupan siswa baik kelebihan dan kekurangan di rumah dan hal bagaimana yg di senangi siswa tersebut. Mengapa itu hal tersulit penulis ungkakan? Karena seorang guru masih disibukkan beberapa administasi yang harus dilengkapi dalam jenjang karir sehingga sang anak menjadi di nomor duakan tentang pendataan jati diri anak. Hal yang paling mempengaruhinya lagi seorang guru profesional di tuntut dalam pembelajaran 24 jam pelajaran dan siswa dalam satu kelas banyak kita lihat tidak sesuai yang dianjurkan oleh kemenristek mengeluarkan aturan Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang dan untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang”, (Permendikbud Nomor 23 Tahun 2013, Pasal 2 poin 2). Namun sebagai seorang guru akan mengikuti bagaimana pun dalam keadaan di kelas karena seorang guru yang baik adalah guru yang ikhlas dalam melakukan pembelajaran kepada siswa. Namun perlu para pemangku kepentingan memperhatikan bagaimana cara seorang guru yang normal dan bisa dituntut keprofesionalannya. Sungguh jauh ke depan pemikiran dari bapak Ki Hajar Dewantara bahwa guru siap sedia selalu bagaimana pun keadaan zaman dan alam siswanya.

Kedua hal di atas yang menjadi kekuatan guru sehingga seorang guru dapat menjadikan pijakan guru dalam implementasi yang kita kenal dengan Trilogi pendidikan ING ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Ing ngarsa sung tuladha memiliki makna dan pengertian bahwa seorang guru dapat menjadi teladan, yang dapat menjadi acuan siswa dalam bersikap atau karakter. Rumah kedua siswa adalah sekolah dan dijaman serba sibuk sekarang kemungkinan siswa akan lebih banyak berinteraksi dengan guru hal ini yang akan merubah siswa dengan lambat lain mencontoh sang guru terkhususnya dalam perilaku. Jika seorang guru tidaklah penyayang atau mengasihi tentunya siswa akan terbiasa dengan kehidupan serba egois itu. Seorang guru tidak peduli apa yang dilakukan siswa dalam hal karakter siswa tersebut akan mengikuti karakter yang sering dilihatnya. Untuk hal karakter ini perlu menjadi perhatian khusus karena mirisnya kita melihat jaman sekarang yang diberitakan di telivisi adalah orang-orang hebat kita baik secara keilmuan maupun kreatifitas namun memiliki sikap korupsi dimana yang salah tentu bangku sekolah pun turut andil dalam menumbuhkan sikap para pejabat tersebut. Jika ditanyakan kepada diri kita masing-masing apakah kita sering terlambat ke tempat kerja, apakah pernah melihat guru sering terlambat ke sekolah? Tugas sebagai guru adalah tugas mulia karena bukan hanya di sekolah sebagai guru tapi di lingkungan masyarakat juga melihat seorang guru apakah mencerminkan perilaku seorang guru atau tidak. Ing ngarsa sung tuladha ini adalah suatu pijakan yang amat mulia yang harus dimiliki seorang guru.

Begitu juga “ing madya mangun karsa” adalah seorang guru menjadi penopang tumbuh kembangnya siswa sampai menjadi terarah sesuai dengan bakat dan minat tersebut. Seorang siswa datang ke sekolah penuh tuntunan dari seorang guru sesuai dengan keunikan dalam diri siswa tersebut. Setiap siswa datang ke sekolah tidaklah kertas kosong yang sesuka pendidik untuk menggirekaskannya namun sudah mempunyai nilai-nilai tersendiri yang terkandung dalam pada diri siswa tersebut. Dalam hal ini Teori Gunung Es Dalam Psikologi pertama kali dicetuskan oleh Bapak Psikologi, yakni Sigmund Freud., ia menggunakan perumpamaan gunung es ini untuk menjelaskan teorinya tentang pikiran manusia. Ia Mengibaratkan bahwa bagian atas gunung es yang terlihat merupakan  pikiran sadar (conscious mind). Sedangkan di bawah pikiran sadar terdapat bagian yang disebut pikiran prasadar (subconscious mind), serta bagian terbesar dari gunung es terletak di bagian paling bawah yang tidak terlihat. Inilah yang kemudian disebut pikiran tak sadar (unconscious mind). Dari teori gunung Es ini yang nampak pada diri manusia sama halnya dengan siswa hanya 12 % sehingga seorang guru harus mampu menggali 88% lagi yang tersimpan dalam diri siswa tersebut. Untuk mengetahui ini posisi seorang guru harus berbaur dengan siswa baik itu dalam kehidupan dalam sekolah maupun di luar sekolah sehingga seorang guru dengan matang mengarahkan siswa ke arah yang lebih baik. 

Kita tidak asing lagi mendengarkan hal ini “tut wuri handayani” sampai dibeberapa atribut sekolah menuliskan filosofi ini untuk disebarkan dan diaksi nyatakan. Apa sebenarnya makna tut wuri Handayani itu bagi seorang guru? Bila dalam posisi berjalan dibelakang adalah posisi yang sangat penting dan menyeramkan mengapa demikian? Bila musuh datangnya dari belakang tanpa ada pagar dari belakang rapuhlah kelompok itu. Dalam halnya pendidikan siapakah posisi-posisi musuh datang dari belakang ini? Hati yang malas, sedih dam memberontak dari diri seorang siswa. Biasanya mereka akan membentuk kelompok yang tidak menyukai sekolah. Seorang guru harus mengerti akan kehidupan yang demikian pengaruh selalu datang dari belakang untuk memperlambat jalannya siswa. Beberapa pengaruh yang selalu datang kepada siswa yang dapat mengakibatkan sifat-sifat negatif di atas adalah nyamannya kehidupan mereka disana. Seorang siswa bolos karena nyaman di tempat dia bolos tersebut. Mereka memberontak di sekolah karena ada memberikan pengaruh yang matang pada siswa diluar sekolah. Sehingga dapat kita simpulkan jika siswa tidak senang sekolah bahwa ada yang salah di lingkungan sekolah. Oleh karena itu  sekarang digalakkan kementerian pendidikan adalah sekolah yang bahagia mewujudkan merdeka belajar yang membuat nyaman anak dalam sekolah dalam pelayanan sekolah. Guru adalah pelayan kehidupan siswa yang menyediakan menu yang disukai siswa untuk membuatnya menjadi penerus bangsa yang bermanfaat. Menu disini dapat kita artikan jenis-jenis dari kognitif dan menyentuh afektif serta psikomotoriknya siswa. Sehingga sekolah menjadi tempat pavorit mereka dengan keikhlasan bapak/ibu guru yang mendidik di sekolah. Sehingga tidak ada lagi anak yang putus sekolah akibat dari ketidaknyamanan di lingkungan sekolah yang dicekoki ilmu pengetahuan (kognitif) yang sebenarnya mereka tidak mempunyai minat bakat bahkan jati dirinya sebenarnya bukan pada materi ilmu pengetahuan tersebut. Banyak mindset kita pada jaman millenial dulu bahwa eksakta adalah materi yang dipaksakan harus dikuasai oleh siswa. Namun sebagai seorang guru saya melihat bahwa kehidupan mereka nantinya tidaklah melulu dengan eksakta seperti yang dianjurkan Oleh Ki Hajar Dewantara mendidik anak sesuai dengan kodrat alamnya siswa.

Guru perlu topangan dari masyarakat dalam memujudkan cita-cita luhur bangsa kita mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan tanggung jawab kita bersama baik itu pemerintah maupun swasta termasuk khusus media yang selalu memberikan pembelajaran yang bermakna buat bacaan siswa secara lisan maupun tulisan. Siswa kita harus merdeka dalam mencapai cita-citanya dimana sekarang digalakkan pemerintah kita merdeka belajar dimana pendidikan yang berkaitan dengan konsep Ki Hadjar Dewantara dijalankan oleh guru yang menjadi penggerak pendidikan dalam mencapai profil pelajar Pancasila.

Profil pelajar Pancasila sumber cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id

Dalam pelatihan guru Penggerak yang diadakan oleh kementrian pendidikan, riset dan teknologi adalah mewujudkan siswa merdeka belajar sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Terimakasih buat guruku dan guru kita masing-masing yang telah mendidik kita sesua dengan kodrat alam dan zaman kita masing-masing. Selamat Hari Guru Nasional 2021. Guru yang baik teruslah berkarya dalam inovasi kemajuan siswa.

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.
Pendidik hanya dapat merawat dan menuntuntumbuhnya kodrat itu.”

Ki Hajar Dewantara

Salam saya Pardomuan Sitanggang guru SMP Negeri 51 Batam.

Share:

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Call