Kerajaan Batak

Kerajaan Suku Bangsa Batak

Sifat, sistem dan struktur kerajaan suku bangsa Batak adalah Kera- jaan-Kerajaan Huta Otonom dalam konfederasi hukum dan adat kekerabatan genealogi patriarchat dan teritorial (DNT, Paopat Sihalsihal) denganbeberapa variannya, yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Batak Raya (dahulu mencakup suluruh Sumatera Utara saat ini plus Gayo-Alas).

Sulit menyatakan bahwa seluruh Tanah Batak, seluruh puak atau masing-masing puak suku bangsa Batak, pernah dipim pin seorang raja pemegang kekuasaan memerintah. Namun, juga tidak mudah menyangkal bahwa secara empiris orang Batak memiliki perasaan, spirit, batin, suara darah2
dan kebanggaan kebangsaan bersama yang memiliki nilai-nilai (IDEOLOGI) kebatakan sebagai suatu suku bangsa Batak.

Prinsip Dasar Kerajaan Batak

Kerajaan Batak adalah bersifat sahala harajaon (wibawa kerajaan) dalam sistem kekerabatan genealogis patriarchat dan struktur teritorial otonom berbentuk konfederasi yang dilandasi nilai-nilai dasar kebatakan (ideologi kebatakan) yakni Tolu Dasor Batak atau Trisila Batak;

Sistem kemasyarakatan Dalihan Na Tolu sebagai sila kedua dari Trisila terse- but adalah sekaligus sebagai landasan konstitusional; serta adat dan hukum kebatakan (Ugari) dengan berbagai variannya sebagai landasan operasional kerajaan Batak.

Sahala Harajaon teritorial otonom berbentuk konfederasi kebatakan dalam prinsip satu kesatuan Batak atau Tolu Torsa Hasadaon Batak yakni Sisada lulu
Harajaon (Satu kepedulian kerajaan adat, Dalihan Na Tolu), Sisada lulu Anak dohot Boru (Satu kepedulian Putera dan Puteri, Suku Bangsa), dan Sisada
lulu Bonapasogit (Satu kepedulian kampung halaman, Tanah Air, Tano Batak Rea-Tanah Batak Raya, Sumatera Utara)

Sumber “Ideologi Batak Persembahan C.H. Robin SImanullang (Wartawan)

Share:

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Call