Pengantar Model Pembelajaran Jarak Jauh

Selama masa darurat pandemi Covid-19, Pembelajaran jarak jauh seringkali disalah artikan sebagai pembelajaran daring atau online. Padahal Pembelajaran jarak jauh pada dasarnya tetap dapat dilaksanakan baik secara daring maupun luring (luar jaringan). Sementara berbagai keragaman kondisi termasuk sosial ekonomi dan kondisi geografis di Indonesia, terkadang tidak memungkinkan dilaksanakannya metode pembelajaran jarak jauh secara daring sehingga pembelajaran jarak jauh tidak dapat berjalan dengan efektif. Melihat perbedaan peta sebaran Covid-19 yang berbeda di berbagai wilayah di Indonesia, pembelajaran jarak jauh juga tidak memungkinkan pelaksanaan PJJ dengan model yang sama.

Pada dasarnya berbagai model pembelajaran jarak jauh yang dapat diadaptasi selama masa pandemi, digolongkan ke dalam tiga kategori. Pembelajaran jarak jauh secara luring, pembelajaran jarak jauh secara daring, dan pembelajaran jarak jauh secara terpadu. Apa yang membedakan ketiganya? Silakan membaca infografik berikut ini:

Beragam Pilihan Model Pembelajaran Jarak Jauh

Untuk mengadaptasi sebuah model Pembelajaran Jarak Jauh yang efektif baik secara luring daring, ataupun terpadu, Bapak dan Ibu guru perlu sekali mengenali kebutuhan siswa. Anda dapat terlebih dahulu menggali informasi terkait kondisi awal siswa sebelum melaksanakan pembelajaran dengan melakukan asesmen diagnostik awal. Misalnya mencari informasi mengenai cara belajar murid, kondisi daerah tempat tinggal terkait akses internet, fasilitas alat bantu berupa gawai yang dimiliki murid/ orang tua murid, jam belajar efektif, dan lain sebagainya. Hal ini terkait dengan cara 5M pembelajaran jarak jauh: Memanusiakan Hubungan. Detail mengenai asesmen diagnostik awal ini sudah dibahas dalam topik pembelajaran ketiga. 

Lalu bagaimana memilih model PJJ yang sesuai dengan kebutuhan siswa? Bagaimana asesmen diagnostik membantu guru mengambil tindak lanjut dan memutuskan model PJJ yang paling sesuai? 

Bapak dan Ibu guru dapat mempelajari contoh panduan proses pemilihan model pembelajaran dengan memahami kondisi murid yang disusun guru Rizqy Rahmat Hani berikut ini.

Praktik Baik Pembelajaran Jarak Jauh dengan Beragam Model

Cara 5M lain yang lain terkait dengan pemilihan model pembelajaran jarak jauh adalah cara Memberdayakan Konteks. Dimana kondisi murid, kondisi sosial ekonomi, dan geografis yang berbeda justru dilihat sebagai satu kekuatan untuk mengadaptasi model pembelajaran jarak jauh yang paling sesuai dan efektif. 

Seperti guru praktik baik Guru Titis dari Sanggau. Terkait dengan keterbatasan akses internet ke daerahnya di pelosok Kalimantan Barat, Guru Titis tidak dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara daring. Untuk dapat menjangkau siswa-siswa nya secara luas, Guru Titis memilih menggunakan model pembelajaran menggunakan siaran radio daerah setempat. Siswa tetap mendapatkan hak belajar, terfasilitasi kebutuhannya dan tujuan belajar tetap bisa dicapai.

Bapak dan Ibu Guru, untuk mengetahui lebih jauh bagaimana guru-guru di berbagai daerah memilih model PJJ dan memandu murid melibatkan sumber daya dan kesempatan di dalam komunitas guru sebagai sumber belajar.

Silahkan unduh dan pelajari Surat Kabar Guru Belajar edisi Sekolah Lawan Corona.

Setelah Anda mempelajarinya, tuliskan pada komentar, salah satu praktik pembelajaran jarak jauh yang menginspirasi Anda.

Share This:

Konsep Asesmen Diagnosis Awal

Pengantar Asesmen Diagnosis Berkala

Halo Bapak, Ibu Guru! Masih ingatkah Anda dengan video testimoni tantangan yang dihadapi guru selama pembelajaran jarak jauh? Jika Anda cermati, terdapat guru yang mengeluhkan bagaimana melakukan asesmen dalam kondisi seperti saat ini. Jika diberikan tes, guru khawatir siswa tidak mengerjakan dengan jujur. Jangankan belajar di rumah, secara tatap muka saja masih sering terjadi kecurangan siswa mengerjakan tes tertulis. Bagaimana menurut Bapak, Ibu? Apakah Anda juga merasakannya?

Permendikbud Nomor 18 Tahun 2018 menjelaskan bahwa salah satu tugas pokok guru ialah menilai atau melakukan asesmen untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Dalam hal ini, guru berperan melakukan diagnosis untuk melihat perkembangan belajar siswa. Apa tujuannya? Ya, seperti yang Anda pelajari pada topik sebelumnya, mengamati perkembangan belajar siswa diperlukan agar guru dapat dengan mudah memberi pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui pemberian umpan balik. 

Akan tetapi, merancang dan melakukan asesmen menjadi tantangan yang dikeluhkan guru. Tantangan ini semakin terasa dalam kondisi pembelajaran jarak jauh seperti saat ini. Sebenarnya, asesmen seperti apa yang perlu dikuasai guru? Apakah asesmen dilakukan hanya di akhir pembelajaran? Pertanyaan tersebut menjadi pokok bahasan pada topik ini. Mari kita pelajari topik asesmen diagnosis berkala ini hingga selesai.

Tiga Kategori Asesmen Pembelajaran

eperti yang Anda ketahui, asesmen dalam pembelajaran bertujuan mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Dalam hal ini, mengukur seberapa jauh kemajuan belajar siswa berarti akan mengukur kemajuan belajar guru. Mengapa demikian? Jika guru mampu mendiagnosis kebutuhan belajar siswa, apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan berarti secara langsung guru dapat merefleksikan pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil asesmen yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan belajar siswa. 

Lantas, asesmen seperti apa yang dibutuhkan guru? Apakah asesmen hanya berupa tes tertulis? Miskonsepsi yang sering terjadi asesmen dilakukan secara terbatas dalam tes tertulis di akhir pembelajaran. Padahal asesmen tidak hanya dilakukan di akhir materi pembelajaran. Bagaimana bisa? Kita perlu mengetahui bahwa asesmen pembelajaran dikategorikan dalam tiga jenis, diantaranya:

  1. Asesmen terhadap pembelajaran (assessment of learning)
  2. Asesmen untuk pembelajaran (assessment for learning)
  3. Asesmen sebagai pembelajaran (assessment as learning

Bagaimana penjelasan setiap kategori asesmen tersebut? Silakan cermati infografis berikut.

Asesmen Formatif sebagai Asesmen untuk dan sebagai Pembelajaran

Anda telah mempelajari bahwa asesmen pembelajaran mencakup asesmen terhadap, untuk dan sebagai pembelajaran. Dari ketiga asesmen tersebut apa kata kunci yang Anda dapatkan? Bagaimana penerapan ketiga asesmen tersebut dalam pembelajaran jarak jauh? 

Asesmen terhadap proses belajar atau asesmen sumatif bertujuan menentukan tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang dilakukan di akhir materi pembelajaran. Di sisi lain, asesmen untuk dan sebagai pembelajaran dikenal pula dengan asesmen formatif. Pada asesmen formatif guru mengumpulkan informasi yang membantu guru memberi umpan balik dan tindak lanjut proses belajar. Selain membantu guru, asesmen formatif juga membantu siswa memperbaiki cara belajar dengan menentukan kembali strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini sesuai dengan cara 5M membangun keberlanjutan yang telah Anda pelajari di topik awal. 

Akan tetapi, seringkali guru hanya berfokus pada asesmen sumatif yang menekankan perolehan hasil belajar siswa. Padahal, siswa lebih membutuhkan pengalaman belajar yang berorientasi pada proses, umpan balik dan tindak lanjut pencapaian belajar. Bukan hanya sekedar penugasan melalui tes dan skor nilai. Terlebih dalam kondisi pembelajaran jarak jauh saat ini, asesmen formatif perlu menjadi prioritas utama dibanding asesmen sumatif. Mengapa demikian? Jawaban ini dapat Anda peroleh jika memahami tujuan dan prinsip asesmen formatif. Silakan cermati infografis berikut. Anda dapat mencatat poin-poin penting yang diperoleh mengenai tujuan dan prinsip asesmen formatif. 

Asesmen Formatif sebagai Asesmen Diagnosis Berkala

Pada aktivitas sebelumnya, Anda telah memahami tujuan dan prinsip asesmen formatif. Apa poin penting yang Anda dapatkan? 

Berdasarkan tujuan dan prinsip asesmen formatif dapat diketahui bahwa asesmen formatif merupakan penilaian yang berorientasi pada proses pembelajaran agar siswa memperoleh umpan balik dari guru untuk memperbaiki capaian belajarnya. Umpan balik dan tindak lanjut dalam asesmen formatif diperlukan agar siswa memaknai pengalaman belajar yang telah dilakukan, tidak hanya hasil yang telah dicapai. 

Orientasi pada proses sebagai salah satu prinsip asesmen formatif pada pelaksanaannya dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Tidak hanya dilihat dari hasil akhir saja, tetapi guru memantau perkembangan proses belajar siswa, memberi umpan balik dan tindak lanjut dari hasil yang diperoleh. Jika pada topik sebelumnya Anda telah mempelajari asesmen diagnosis awal, guru juga perlu melakukan asesmen diagnosis secara berkala. Terlebih pada pembelajaran jarak jauh, asesmen diagnosis berkala dapat digunakan untuk memetakan kemampuan belajar siswa. 

Jika dikaitkan dengan tujuan dan prinsip asesmen formatif, asesmen diagnosis berkala dapat pula dikatakan sebagai asesmen formatif. Mengapa demikian? Berikut terdapat infografis tujuan dan prinsip asesmen diagnosis berkala. Anda dapat membandingkan dengan tujuan dan prinsip asesmen formatif untuk mencari keterkaitan antar keduanya. 

Langkah-Langkah Merancang Asesmen Diagnosis Berkala

Bagaimana Bapak Ibu? Apa Anda sudah memahami mengapa asesmen formatif dapat pula dikatakan sebagai asesmen diagnosis berkala?

Sebagaimana yang Anda ketahui, kemampuan dan kompetensi siswa dalam menguasai suatu materi berbeda-beda. Setiap siswa memiliki keunikan yang menjadi identitas pada dirinya. Ada siswa tertentu yang cepat menguasai suatu topik pembelajaran, tapi belum tentu menguasai pada topik yang lain. Maka dari itu, asesmen diagnosis berkala diperlukan guna memetakan kemampuan semua siswa di kelas secara cepat. Dalam hal ini, asesmen diagnosis berkala dapat digunakan untuk mengetahui siapa saja yang sudah paham, siapa saja yang agak paham, dan siapa saja yang belum paham. Dengan demikian, Anda dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa. Terutama pada kondisi pembelajaran jarak jauh saat ini, penting bagi guru untuk melakukan asesmen diagnosis berkala agar kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi walaupun dilakukan secara jarak jauh. 

Lantas, bagaimana merancang asesmen diagnosis berkala? Asesmen diagnosis berkala dapat dirancang melalui tiga tahapan, yaitu:

  1. Persiapan
  2. Pelaksanaan
  3. Tindak lanjut 

Bagaimana penjelasan setiap tahapannya? Silakan pelajari infografis berikut dan cermati setiap tahapan yang dipaparkan. Kemudian, Anda dapat memulai untuk merancang asesmen diagnosis berkala sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa Anda.

Dengan terbiasanya siswa menjalani proses asesmen formatif sebagai asesmen diagnostik berkala, siswa akan lebih fokus dan mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajarnya sendiri, terbiasa melihat kualitas pekerjaan melalui umpan balik, dan memperbaiki kekurangan dirinya. Siswa tidak akan lagi berfokus pada capaian nilai saja, yang cenderung mendorong mereka menggunakan berbagai cara, bahkan cara yang kurang jujur.  

Anda dapat mempelajari lebih lanjut terkait penerapan asesmen diagnosis berkala pada sumber belajar berikut.

Buku Saku Asesmen Diagnosis Kognitif Berkala

Share This:

Konsep Asesmen Diagnosis Awal

Pengantar Konsep Asesmen Diagnosis Awal

Selama masa Pembelajaran Jarak Jauh, pengelolaan kelas yang kondusif menjadi perkara yang sangat menantang. Keadaan dimana guru dan siswa tidak dapat bertatap muka secara langsung, tidak memungkinkan guru untuk menjalani fungsi kontrol seperti ketika di dalam kelas. siswa terlihat tidak termotivasi untuk belajar jarak jauh secara daring, pembelajaran di rumah dimana siswa melakukan pembelajaran secara mandiri juga sudah dikontrol, bagaimana  guru dapat mengetahui kesulitan dan pencapaian siswa? 

Belum lagi setiap siswa memiliki kemampuan yang tidak sama, keadaan keluarga yang beragam, dengan tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Ada yang sudah diajari berkali-kali masih belum paham materi, sedangkan ada siswa yang sekali diajari sudah langsung bisa. Ada siswa-siswa yang tidak terpantau tugas-tugasnya di rumah karena orang tuanya sibuk bekerja. Ada siswa yang sering melewati kelas daring karena alasannya gawainya dipakai bergantian dengan kakak dan adiknya. Ada siswa yang tidak punya pulsa. Kacau! Bagaimana guru dapat mengelola kelas dengan keadaan seperti ini?

Keadaan mana yang pernah Anda alami? 

Jangan khawatir. Jika Anda telah mampu mengenali tantangan yang Anda hadapi, selanjutnya Anda akan dapat memikirkan langkah-langkah untuk mengatasinya.

Jika Anda telah selesai membaca instruksi ini, silakan melanjutkan ke aktivitas berikutnya.

Mengenal Lebih Jauh Asesmen Diagnosis Awal

Pandemi Covid-19 memaksa guru dan siswa untuk langsung mengubah cara pembelajaran normal menjadi Pembelajaran Jarak Jauh. Keadaan darurat membuat guru lupa melihat dan mempertimbangkan kondisi kesiapan siswa baik secara kognitif dan non kognitif sebelum dan selama Pembelajaran Jarak Jauh. Hal ini berimbas pada tantangan-tantangan yang sudah disebutkan di sesi sebelumnya. 

Berangkat dari isu ini, selain menetapkan kebijakan mengenai kurikulum pada kondisi khusus di masa pandemi, Mendikbud juga mengimbau guru untuk melakukan asesmen diagnosis. Asesmen dilakukan di semua kelas secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif dan non-kognitif siswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh.

Apakah Bapak dan Ibu Guru masih ingat strategi Memanusiakan Hubungan dalam pedoman pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh? Strategi ini menekankan pada praktik pembelajaran yang dilandasi orientasi pada anak berdasarkan relasi positif yang saling memahami antara guru, siswa dan orangtua. Anda dapat menggunakan strategi memanusiakan hubungan ini pada awal pembelajaran untuk mendapatkan informasi mengenai profil siswa  Anda, termasuk kondisi non-kognitif dan kognitifnya.

Anda akan mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai asesmen diagnosis awal serta manfaat yang akan Anda peroleh dari Asesmen diagnosis awal dengan membaca infografik berikut ini:

Panduan Asesmen Diagnosis di Awal Pembelajaran

Sudah mempelajari panduan tersebut? Mari melanjutkan ke aktivitas berikutnya.

Asesmen Diagnosis Non Kognitif

Sekarang, Anda telah memahami mengenai asesmen diagnosis, tujuan dan manfaatnya. Asesmen diagnosis yang dilakukan di awal pembelajaran jarak jauh, dilakukan untuk  melihat kondisi siswa baik secara non kognitif maupun secara kognitif.

Asesmen diagnosis non kognitif di awal pembelajaran diberikan pada siswa untuk mengetahui:

  1. Kesejahteraan psikologi dan emosional siswa
  2. Aktivitas siswa selama belajar di rumah
  3. Kondisi keluarga siswa

Dalam melaksanakan asesmen diagnosis di awal pembelajaran, Anda perlu melakukan tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap tindak lanjut. Terkait persiapan dan pelaksanaan asesmen diagnosis non kognitif, keterampilan guru untuk  bertanya dan membuat pertanyaan dapat membantu guru mendapatkan informasi yang komprehensif dan cukup mendalam. Berikut ini Anda dapat mempelajari tips bagaimana strategi tanya jawab bersama murid dalam asesmen diagnosis non-kognitif.

Anda dapat mencatat poin-poin penting yang didapat setelah membaca materi tersebut. Jika sudah selesai, lanjutkan ke aktivitas berikutnya.

Asesmen Diagnosis Kognitif

Anda telah selesai memah mengenai asesmen diagnosis non kognitif. Jadi apakah yang dapat membantu guru untuk dapat melakukan asesmen non kognitif secara lebih efektif?

Benar! Kemampuan untuk melakukan strategi bertanya sangat membantu guru dalam melakukan asesmen diagnosis awal non kognitif.

Nah lalu bagaimana dengan asesmen diagnosis kognitif?

Asesmen diagnosis kognitif di sisi lain digunakan untuk:

  1. Mengidentifikasi capaian kompetensi siswa
  2. Menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa
  3. Memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa dengan kompetensi di bawah rata-rata.

Seperti halnya asesmen diagnosis non kognitif, asesmen diagnosis kognitif juga melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, dan  tindak lanjut. Bagaimana penjelasannya? Silakan cermati infografis berikut ini.

Diagnosis dan Tindak Lanjut Asesmen

Share This:

Pengantar Konsep Kurikulum pada Kondisi Khusus

Sepanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh ini, masih banyak siswa yang mengaku bosan dan kelelahan. Banyak siswa mengeluh jika mereka dibebani berbagai tugas dari berbagai mata pelajaran, sehingga tidak sempat beristirahat. Jam sekolah terasa lebih melelahkan  dibandingkan jam sekolah sebelum masa pandemi. Tugas menumpuk, kurang paham konsep namun terpaksa harus melakukan ujian, kalau tidak ingin kehilangan nilai. Nilai pas-pasan, kalau kurang masih harus ikut remedial. Stres jadinya!

Di sisi lain guru-guru juga mengeluh, sudah berusaha mati-matian mengajar dan memberi tugas agar siswa tidak ketinggalan materi pelajaran dan dapat lulus dengan nilai yang minimal sesuai target KKM. Namun masih saja beban kurikulum ini seperti kurang realistis diterapkan pada masa darurat seperti ini. Mana mungkin target kurikulum normal ini dapat dicapai dengan sempurna. Semakin berat saja rasanya beban guru.

Perlu diakui, gambaran ini merupakan persoalan umum yang dirasakan oleh sebagian besar siswa dan guru pada masa Pembelajaran Jarak Jauh saat pandemi Covid-19.

Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi tantangan ini?

Untuk dapat mengatasi tantangannya, Bapak dan Ibu guru dapat meninjau kembali tujuan dan prinsip Pembelajaran Jarak Jauh sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Panduan Pembelajaran Jarak Jauh.

Perlu mengingat kembali bahwa PJJ dilakukan agar setiap peserta didik mendapatkan haknya untuk tetap bisa belajar selama masa pandemi Covid-19, serta memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik dan orangtua/wali. Selain untuk tetap melindungi seluruh warga satuan pendidikan dari penularan dan penyebaran wabah Covid-19.

Prinsip-prinsip PJJ juga perlu ditekankan kembali. Terutama prinsip mengenai pemberian pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, serta prinsip pendidikan yang berfokus pada pendidikan kecakapan hidup. 

Berpedoman pada tujuan dan prinsip-prinsip tersebut, apakah menurut Anda penyelesaian materi dan beban kurikulum pembelajaran yang normal tetap menjadi menjadi prioritas pembelajaran pada masa pandemi Covid-19?

Tidak. Muatan kurikulum dan penyelesaian target kurikulum bukan lagi menjadi prioritas utama dalam Pembelajaran Jarak Jauh pada masa pandemi Covid-19. Anda akan mempelajarinya lebih lanjut dalam sesi-sesi selanjutnya.

Konsep Kurikulum pada Kondisi Khusus

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Satuan pendidikan dalam kondisi khusus dapat menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik. 

Pelaksanaan kurikulum pada kondisi khusus bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.  Semua jenjang pada setiap satuan pendidikan pada kondisi khusus dalam pelaksanaan pembelajaran dapat: 

  1. Tetap mengacu pada Kurikulum Nasional 
  2. Menggunakan kurikulum pada kondisi khusus
  3. Melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri

Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) yang disiapkan oleh Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Kemendikbud juga menyediakan modul-modul pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) yang diharapkan dapat membantu proses belajar dari rumah dengan mencakup uraian pembelajaran berbasis aktivitas untuk guru, orang tua, dan peserta didik. Dan seperti yang ditegaskan Mendikbud, dari opsi kurikulum yang dipilih, catatannya adalah siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran.

Silakan mencermati infografik berikut ini.

Panduan dan informasi lebih lanjut mengenai kurikulum darurat dengan penyederhanaan KI dan KD bisa Anda pelajari dari tautan berikut ini KI dan KD pada Kurikulum pada Kondisi Khusus

Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Nah Bapak dan Ibu guru, apapun pilihan pelaksanaan kurikulum yang Anda pilih, mari pusatkan perhatian pada pembelajaran berbasis kompetensi. Sesuai dengan namanya, pembelajaran berbasis kompetensi berorientasi pada pencapaian kompetensi peserta didik yang dapat dilihat dari pemahaman konsep, keterampilan menerapkan konsep dalam berbagai konteks, serta sikap-sikap yang menyertainya. 

Hal ini sejalan dengan strategi 5M Pembelajaran Jarak Jauh; Memahami Konsep, yang menekankan praktik pembelajaran yang memandu siswa bukan sekedar menguasai konten tapi menguasai pemahaman mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di berbagai konteks kehidupan peserta didik.

Apa ciri pembelajaran berbasis kompetensi? Dan apa yang membedakannya dari pembelajaran berbasis konten? Anda dapat mempelajari infografik berikut ini

Penyelarasan KI dan KD Kondisi Darurat dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Bapak dan Ibu guru, Anda telah memahami mengenai pembelajaran berbasis kompetensi yang mendukung pembelajaran jarak jauh di masa pandemi.

Lalu bagaimana menyelaraskan KI dan KD dalam pembelajaran jarak jauh untuk memaksimalkan pembelajaran berbasis kompetensi? Mari kita lihat contoh yang berasal dari Kanvas RPP Merdeka Belajar dalam infografik berikut ini.

Dari contoh yang di atas, Bapak dan Ibu guru dapat melihat bagaimana pembelajaran berbasis kompetensi diterapkan pada pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran yang cakupannya sederhana namun mendalam dapat memberikan lebih banyak kesempatan pada siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan secara bersamaan. 

Anda juga dapat membaca rujukan merancang pembelajaran jarak jauh dengan membaca tautan berikut ini: Kanvas RPP Merdeka Belajar.

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana rumusan tujuan kompetensi yang Anda buat berdasarkan KD 3 dan KD 4 pada mata pelajaran Anda? Anda dapat menuliskannya pada kolom komentar.

Share This: