Berkat untuk Memberkati

Amos 8:4-8

Kitab Amos masuk dalam kitab nabi-nabi kecil. Kekhasan dari kitab ini adalah teguran atau nubuat kenabian kepada umat Israel disampaikan secara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Vulgar, mungkin demikian kita berpendapat. Namun toh se-vulgar apapun kitab Amos sejatinya memberikan penekanan kepada pembaca untuk kembali memperhatikan perjanjian antara umat pilihan (Israel) dengan Tuhan Allah. Disinilah terlihat bahwa konteks kitab Amos ini ditulis karena banyaknya umat pilihan yang sudah mulai tidak setia dengan perjanjian antara Allah dengan umatnya. Ketidaksetiaan itu ditandai oleh berbagai tindak amoral dan bahkan ketidakadilan dan kekejaman saja yang dilakukan oleh umat pilihan. Kondisi kemerosotan moral itu terjadi justru disaat Israel sedang mengalami kemakmuran ekonomis. Bangsa yang selama ini menderita kekurangan justru kini sedang mengalami kejayaan secara ekonomis. Namun toh, kejayaan ekonomi itu justru memerosotkan moral dan iman umatnya.

Pasal 8: 4-8 juga menampakkan sikap amoral dan kelicikan umat pilihan Allah tersebut. Secara khusus perikop ini dialamatkan bagi orang-orang lalim yang dengan kejamnya menginjak-injak orang miskin dan yang membinasakan orang sengsara (ay 4). Dengan melihat tujuan dari nubuatan tersebut maka kita patut terlebih dahulu mengerti bahwa kemerosotan kwalitas hidup umat pilihan Allah tersebut salah satunya ditandai dengan sikap biadab yang menindas orang miskin dan bahkan membinasakan orang yang sengsara kehidupannya.

Orang miskin adalah kaum lemah dan tidak berdaya. Sementara diantara orang miskin yang demikian tersebut juga ada yang dikategorikan sebagai orang lemah. Disini nampak bahwa selain orang miskin yang jelas hidupnya sengsara, masih ada yang lebih sengsara lagi yaitu yang dalam ayat 7 disebut sebagai orang sengsara. Baik orang miskin maupun orang sengsara tidak memiliki kekuatan untuk menolong dirinya sehingga seharusnya orang lain menolongnya. Namun rupanya umat Israel justru memanfaatkan kelompok orang lemah ini dan justru ditindas dan dibinasakan. Itulah salah satu bukti bahwa umat Israel yang menjadi umat pilihan Allah dimana Tuhan Allah mengutus mereka untuk menegakkan keadilan dan kebenaran justru tidak mampu memenuhi tanggungjawab tersebut. Mereka justru menindas dengan prilaku curang (mengecilkan efa membesarkan syikal – ayat 5) dan bahkan dengan neraca palsu. Kejahatan yang disusun tersebut pasti akan menjadikan orang miskin semakin lemah dan tidak berdaya yang pada akhirnya pasti akan menjual hidupnya (bahkan dirinya) untuk dapat hidup.

Penindasan yang dengan terang-terangan dilakukan oleh umat Israel adalah penindasan ekonomi dengan system dagang yang kejam. Bagaimana tidak kejam disaat orang miskin dan lemah kesulitan mencari pemenuhan kebutuhan pangan, maka orang-orang Israel yang memiliki bahan pangan justru berprilaku curang dalam menjual bahan pangan tersebut. Gandum dan terigu dijual dengan takaran yang curang supaya jikalau ada orang miskin yang membeli uangnya tidak cukup dan bahkan untuk mencukupi kebutuhan pangannya tersebut orang miskin menjual dirinya menjadi budak pedagang tersebut.

Amarah dan murka Tuhan atas perilaku jahat itulah yang menjadikan Allah tidak akan melupakan perbuatan kejam tersebut. Dan luapan kemarahan Tuhan tersebut dilandasi sumpah demi kebanggan Yakub yaitu bangsa Israel sebagai keturunan Yakub. Kemarahan Tuhan inilah yang boleh juga diartikan ancaman penghukuman kepada umat Israel. Bencana besar dan kehancuran adalah penghukuman Tuhan kepada umat Israel jikalau mereka tidak segera bertobat dari perbuatan jahatnya tersebut.

 

1 Timotius 2:1-7

Surat Paulus ini dialamatkan kepada individu tertentu yaitu Timotius. Sebagai murid rohani Paulus, Timotius menaruh hormat dan taat kepada gurunya tersebut. Bahkan Paulus juga memberikan petunjuk dan arah dari kehidupan pribadi Timotius sebagaimana dalam perikop kita hari ini. Perikop kita ini merupakan nasehat dan pengajaran Paulus. Inti pengajaran tersebut adalah supaya Timotius selalu mengusahakan kedamaian dan ketentraman dalam berhubungan dengan semua orang. Dasar dari nasehat tersebut adalah pemahaman dasar bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh kebenaran  (ayat 3-4). Tentunya paham dasar ini memberikan penegasan kembali akan posisi Allah sebagai Allah yang universal yaitu Allah dari semua ciptaan termasuk mereka yang belum mengenal Allah sekalipun. Dengan penekanan akan ke-universalan Allah maka sejatinya Paulus menegaskan kembali akan keesaan Allah dan Yesus Kristus.

Wujud nyata dari usaha hidup berdamai dengan semua orang adalah dengan selalu mendoakan semua orang. Paulus menasehati supaya Timotius selalu berdoa bagi para pemimpin baik pemimpin politik maupun pemimpin agama. Dalam ayat 2, Paulus meminta Timotius untuk selalu mendoakan raja-raja (pemimpin politik) yang memerintah negerinya dan juga para pembesar yaitu orang-orang penting yang ikut mengendalikan kehidupan masyarakat. Didoakan bagaimana ? Tentu saja didoakan supaya dalam memimpin dan membuat kebijakan yang membawa masyarakat dalam ketentraman dan ketenangan. Terkesan hal ini biasa, tetapi senyatanya hal biasa itu adalah juga merupakan pengungkapan iman Kristen  yaitu iman yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus yang telah menebus semua orang termasuk para pemimpin dan pembesar-pembesar. Jadi doa kepada para pemimpin negeri juga berarti bahwa kita telah menjadi saksi atas karya penebusan Tuhan Yesus bagi seluruh bangsa.

 

Lukas 16:1-13

Harus saya akui bahwa perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur dalam Lukas 16: 1 – 9 adalah perumpamaan yang sulit saya pahami dan menimbulkan berbagai pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya. Bagaimana tidak, perumpaan ini disampaikan dalam konteks sosial-ekonomi orang Yahudi yang sangat serius berpegang kepada aturan-aturan. Namanya aturan, jika itu dilanggar pasti resikonya adalah hukuman. Namun dalam perumpaan ini justru aturan-aturan sering dilanggar dan malah seolah itu dibenarkan. Karena itulah sebelum sampai kepada perikop ini kita harus mau belajar tentang latar belakang pikiran Yahudi supaya perikop ini bisa berbicara kepada kita.

  1. Peraturan ekonomi bangsa Yahudi yang pertama adalah: Dilarang memungut riba. Dalam Kitab Kel 22:25 (lihat juga Im 25:36; Ul 15:8; 23:19), Allah mengajarkan tanggung jawab sosial dan pelarangan uang riba kepada umat-Nya. Implikasi dari peraturan ini adalah setiap orang yang memungut riba harus dianggap sebagai perampok. Kosekwensi logisnya adalah dia harus dihukum sebagai seorang perampok.
  2. Namun toh pelarangan pemungutan riba tersebut masih saja disiasati yaitu jika seorang yang kaya-raya pasti akan mengangkat bendahara yang dipercaya mengelola uangnya tersebut dengan maksud uang tersebut dapat dikembangkan. Bendahara diberi keleluasaan untuk mengembangkan uang juragan kaya tersebut. Jika ketahuan bahwa uang tersebut sudah dikembangkan maka yang ditangkap dan wajib menerima hukuman bukanlah juragan yang kaya tersebut tetapi justru bendaharanya. Karena itulah bendahara dalam praktek mengambil riba memiliki perjanjian dengan peminjam (nasabah) yaitu memberikan pinjaman uang ditambah bungan dalam satu jumlah. Misal, peminjam meminjam uang 100 dengan bungan 10 maka dalam surat perjanjian peminjaman dituliskan bahwa jumlah pinjaman yang dipinjam nasabah sebesar 110. Toh jika masih ketangkap hal tersebut sebagai pemungutan riba maka bendahara itu saja yang dihukum bukan pemilik uangnya.
  3. Seorang bendahara diberi posisi kepercayaan. Dia mengontrol aset-aset tuannya dan dianggap sebagai anggota keluarganya. Dia mewakili tuannya dan diberi otoritas penuh untuk bekerjasama dengan para nasabah/peminjam jika dilihatnya sesuai. Nasabah harus patuh kepada ketentuan bendahara. Di sisi lain, jikalau bendahara menampakkan ketidakmampuannya atau tidak dapat dipercaya maka tuannya akan meminta dia memberikan perhitungan dan sesudah itu dapat dipecat dengan tanpa harta bahkan tidak akan pernah ada orang lain yang mau menerimanya lagi.

Rupanya Tuhan Yesus membuat ceritera perumpamaan dalam Lukas 16: 1- 13 dari sebuah kisah nyata yang mungkin saja terjadi ditengah kehidupan para pendengarnya saat itu. Ketika ada seorang yang kaya dan mengangkat bendahara untuk dipercaya mengelola keuangannya maka pengangkatan bendahara itu bukan hanya sekadar mengangkat asisten tetapi kemungkinannya adalah bahwa bendahara itu diberi tugas dan tanggungjawab untuk mengembangkan uang tuan tersebut. Harapan uangnya dapat berkembang rupanya tidak didapati pada bendaharanya ini karena bendahara tersebut menghambur-hamburkan uang tuannya tersebut (ayat 1-3). Mendengar tuduhan tersebut jelas bendahara tersebut tau resikonya, dia pasti dipecat dan tanpa mendapatkan apapun bahkan tidak akan pernah ada orang yang mau menolongnya lagi.

Terdesak oleh masalah besar yang siap menimpa dirinya, maka bedahara itu mencari cara menyelamatkan dirinya. Semua orang yang berhutang kepada tuannya melalui bendahara itu dipanggil dan semua hutang dipotongnya. Tentu ini menggembirakan bagi si pemilik utang karena mendapatkan diskon besar. Tetapi mengapa tuan pemilik uang itu juga ikut gembira ? Bukankah dengan memberi potongan utang tuan itu mengalami kerugian ? Rupanya utang yang pertama sebelum dipotong tersebut sudah termasuk riba atau bunganya juga. Sikap bendahara tersebut dinilai cerdik karena bagi tuan pemilik uang tidak mengalami kerugian tetapi bagi pemilik utang merasakan keringanan. Itulah rupanya yang disebut dengan cerdik karena bendahara tersebut aman dalam dua posisi yaitu seandainya dipecat jelas banyak orang yang menerimanya karena kebaikannya dengan memberikan potongan utang dan sekaligus aman karena tuannya juga tidak dirugikan.

Namun kini tersisa pertanyaan reflektif terkait dengan apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam ayat 9 ? “Ikatlah persabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Selama ini bukankah Tuhan Yesus selalu diposisikan berlawanan dengan Mamon. Mamon selalu menjadi represntasi kejahatan, ketamakan dan kerakusan dan harta duniawi. Lalu mengapa dalam ayat 9 ini justru Tuhan Yesus menyetujui persahabatan dengan Mamon tersebut ?

Rupanya, inilah pesan yang justru ingin disampaikan oleh Tuhan Yesus tentang perumpamaan ini. Pesan yang ingin ditonjolkan bukan pada mengikat persahabatan dengan Mamonnya tetapi justru pesan yang ditonjolkan adalah cara mempergunakan “mamon” tersebut. Jikalau kekayaan duniawi selama ini dipandang sebagai Mamon maka Tuhan Yesus ingin mengingatkan kembali bahwa kekayaan duniawi itu harus dipergunakan untuk kekayaan sorgawi yaitu kemah abadi. Boleh kita mencari kekayaan di dunia tetapi bukan kekayaan itu tujuan hidup kita tetapi kekayaan itu justru harus menjadi alat/ sarana mencapai kemah abadi. Dengan demikian prilaku kita bukan menyembah kekayaan tetapi bersikap baik kepada orang lain dengan bersedia berbagi sebagai usaha kita untuk mencapai kemah abadi. Ini berarti bahwa bersekutu dengan Tuhan dalam kehidupan abadi yang menjadi tujuan kehidupan kita.

BENANG MERAH ANTAR BACAAN

Setiap umat Tuhan adalah orang yang terberkati. Berkat memiliki dua sisi yang sama tajamnya, yaitu: satu sisi bisa dipergunakan untuk menolong orang yang lemah, tetapi di sisi lain bisa dipergunakan menindas (membunuh) orang yang lemah. Sesungguhnya, masalah utama bukan pada berkatnya tetapi pada cara manusia mengelola atau mempergunakan berkat tersebut. Kerja adalah tanggungjawab dalam mencari dan mengelola berkat. Dengan bekerja kita mendapat berkat dan dengan berkat kita diundang memberkati orang lain.

 

RANCANGAN KHOTBAH: Bahasa Indonesia

(Hanya Sebuah Rancangan…sangat mungkin dikembangkan sendiri sesuai konteks jemaat)

 

Pengantar

Majalah Forbes pada bulan Desember 2015 yang lalu merilis nama 50 orang terkaya di Indonesia. Harta yang dimiliki oleh orang terkaya di Indonesia (peringkat pertama) adalah sejumlah Rp. 210,98 Triliun atau 15,4 Miliar Dolar USA (dengan kurs Rp.13.700 di bulan Desember 2015). Wow…jumlah yang fantastis tentunya. Mari kita berandai-andai sekarang. Seumpama anda menjadi orang terkaya di Indonesia seperti yang dirilis majalah Forbes tersebut bagaimana perasaan anda? (biarkan warga jemaat menjawab). Apa yang akan anda lakukan dengan kekayaan tersebut? (biarkan warga jemaat menjawab)

Ah, rasanya kok sensitive jikalau bicara kekayaan di gereja. Mungkin sebagian dari kita juga merasa risih atau malah anti-pati membicarakan kekayaan di gereja. Jelaslah karena kita berfikir bahwa gereja itu tidak mengurusi harta kekayaan karena harta kekayaan itu masalah duniawi. Gereja itu mengurus masalah-masalah sorgawi karena itu tabu, malah mungkin haram bicara kekayaan di gereja. Mungkin juga ada sebagian yang mbatin, ya gereja memang harus bicara tentang harta kekayaan supaya dapat terus hidup di tengah-tengah dunia ini.

Tentu bukan bermaksud menyalahkan atau membenarkan salah satu pendapat, tetapi marilah sejenak merenungkan bukankah gereja itu juga masih tinggal di dunia walaupun memang tidak berasal dari dunia. Gereja saat ini dalam memandang harta kekayaan selalu ada di antara dua kutub. Ada sebagian gereja yang menekankan “teologi kemiskinan” dimana memandang harta kekayaan itu buruk karena harta kekayaan itu awal dari dosa dan karena itulah harta kekayaan itu haruslah dihindari malah dimusuhi. Jangankan mencari kekayaan, melihat kekayaan saja dianggap berdosa. Di sisi lain ada sebagian gereja yang menekankan “teologi kemakmuran/teologi sukses” yang menjadikan kekayaan itu sebagai ukuran iman. Iman seseorang dapat dilihat dari kekayaan yang dimilikinya dan jika ada orang miskin maka dipandang kurang imannya. Lalu bagaimana dengan GKJW memandang harta kekayaan? Ah, mungkin kita bisa saja menganut kedua-duanya secara bersamaan tetapi mungkin juga kita bisa merumuskan sendiri teologi baru yaitu “teologi kemisinan” dimana prinsipnya adalah setiap orang yang dengan tulus dan hidup benar di hadapan Tuhan pasti Tuhan malu melihat kita tetap miskin. Karena itu, pastilah setiap orang yang hidup benar di hadapan Tuhan pasti diberikan berkat kekayaan. Jadi yang menjadi ukuran bukanlah kekayaannya tetapi sikap hidup di hadapan Tuhan. Ah, itupun juga masih kabur rasanya….

 

Inti Pesan

Bacaan Injil kita hari ini juga tidak jauh-jauh berbicara tentang harta kekayaan. Tuhan Yesus mengajar para murid dengan perumpamaan. Karena perumpamaan, peristiwa dalam ceritera itu tidak benar-benar terjadi tetapi sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Kisah tentang bendahara dan tuan dalam perumpamaan ini juga bicara banyak tentang kekayaan. Tuan adalah sang pemilik kekayaan. Karena itu dalam ayat 1 disebutkan seorang kaya dan bendahara adalah orang kepercayaan tuan tersebut karena diberi wewenang mengelola kekayaannya. Hubungan yang mengikat keduanya adalah kepercayaan dimana tuan menaruh kepercayaan kepada bendahara tersebut sehingga mempercayakan kekayaannya. Bendahara adalah orang yang dipercaya karena mampu mengelola kekayaan tuannya tersebut.

Ketika ikatan hubungan tersebut hancur yaitu sudah tidak ada lagi, kepercayaan di antara keduanya maka hubungan itu pasti putus bahkan hancur. Itulah yang terjadi dalam perumpamaan tersebut. Si tuan tidak percaya lagi kepada bendaharanya karena dianggap menghamburkan kekayaan tuannya. Dan saat hubungan mereka hancur maka tuan meminta pertanggungjawaban dari si bendahara. Hal ini menegaskan kembali bahwa hubungan antara orang kaya dengan bendahara tersebut hanyalah hubungan bisnis semata. Di sinilah ancaman besar bagi si bendahara karena jika tuan itu sudah tidak percaya kepada dirinya pasti dia akan dipecat dan bahkan tidak akan diberi apa-apa lagi. Lebih parah dari itu, karena umumnya bendahara itu dalam mengembangkan kekayaan tuannya dengan cara memeras orang lain pasti saat dipecat dia tidak akan punya teman atau kolega yang bersedia menolongnya.

Karena itulah bendahara tersebut menata strategi sebelum dipecat yaitu dengan memberikan potongan hutang kepada orang-orang yang meminjam harta tuannya. Ini adalah strategi mengamankan diri. Bagi para peminjam tentu mereka akan memuji bendahara tersebut dan andaikan bendahara itu dipecat, peminjam dan bendahara masih memiliki hubungan baik. Sekilas dengan memberikan potongan utang kepada peminjam pasti merugikan tuannya, tetapi kenapa tuannya itu justru memuji sikap bendahara itu sebagai tindakan cerdik? Rupanya tuannya juga tidak dirugikan karena potongan yang diberikan kepada peminjam tersebut adalah bagian dari bunga yang dipungutnya. Jadi uang tuannya tetap utuh hanya saja keuntungan yang harus didapatkan bendahara dipergunakan untuk memberi potongan kepada peminjam. Kecerdikannya adalah karena bendahara tersebut mampu menyelamatkan hubungan antara dirinya dengan tuannya dan juga antara dirinya dengan peminjam lainnya.

Jemaat yang terkasih, melihat ceritera perumpamaan ini sesungguhnya yang menjadi focus (pusat) ceritera bukanlah kekayaannya tetapi kepada sikap atau cara mengelola kekayaan. Dengan demikian sejatinya kita bisa belajar beberapa hal dari kisah ini:

  1. Tidak ada yang salah dengan harta kekayaan selama harta kekayaan itu dipergunakan untuk menolong orang lain. Bagaimana hal itu dilakukan? Orang yang meminjam kepada bendahara tersebut pastilah orang yang membutuhkan pertolongan. Saat bendahara itu memberikan pinjaman jelas itu menolong mereka. Apalagi pinjaman itu tidak diberi bunga justru diberi potongan tentu akan sangat menggembirakan peminjamnya.
    Lebih penting dari itu adalah harta kekayaan justru memelihara hubungan baik dengan orang lain sebagaimana hubungan bendahara dengan peminjamnya. Banyak hari ini orang pinjam atau dipinjami tetapi setelah transaksi itu terjadi justru hubungan keduanya semakin renggang malah putus. Di sinilah kita harus bersikap cerdik, jikalau kita meminjam atau dipinjami justru menghancurkan hubungan berarti bahwa harta tidak menolong orang lain. Bagaimana menolong jikalau hubungan yang terbangun justru tidak baik? Harta kekayaan haruslah membawa kebaikan kepada semua orang. Di situlah harta kita menjadi berkat bagi diri sendiri dan orang lain.
  1. Membangun budaya kerja. Tentu orang yang meminjam kepada bendahara kini memiliki modal untuk dikelola. Kesediaan mengelola dibutuhkan semangat kerja. Karena itulah semangat bekerja adalah bagian penting dalam mengelola harta kekayaan. Jika ingin memiliki kekayaan pastilah harus bekerja. Namun tidak dapat dipastikan pula bahwa orang yang bekerja pasti kaya. Pada titik inilah kita harus merenungkan kembali arti dari bekerja. Bekerja bukan semata mencari kekayaan tetapi bekerja juga bermakna tanggungjawab kepada pemberi modal. Bekerja adalah tanggungjawab kita kepada Tuhan yang sudah memberikan banyak modal untuk kita kelola. Mari menghitung, berapa banyak kekayaan yang Tuhan berikan kepada kita sebagai modal. Saat Tuhan memberi kita tubuh sehat dangan panca indera yang sempurna, apakah itu bukan modal untuk bekerja? Menyadari bahwa banyak modal yang Tuhan berikan kepada kita haruslah membawa kita dalam semangat untuk bekerja dan bekerja. Apapun pekerjaan kita sadarilah bahwa bekerja adalah tanggung jawab kepada Tuhan yang memberikan modal dalam mengarungi kehidupan ini.
  2. Menaruh empati kepada orang miskin dan lemah dalam mempergunakan kekayaan. Belajar dari kisah umat Israel dalam kitab Amos maka kita bisa tahu bahwa oleh orang Israel harta justru dijadikan alat penindas bagi orang miskin dan lemah. Dengan hartanya orang Israel berlaku curang kepada orang lain. Tentu hal ini tidak berkenan bagi Tuhan dan karena itulah Tuhan menaruh amarah dan penghukuman kepada umat yang berlaku curang apalagi dengan harta kekayaannya. Kekayaan adalah modal yang dapat kita pergunakan untuk memuliakan Tuhan. Karena itu janganlah sampai kita mempergunakan kekayaan hidup kita ini untuk menindas apalagi menghancurkan orang lain.
  3. Kita memiliki tugas untuk membangun hubungan baik dengan semua orang. Sebagaimana Paulus menasehati Timotius (1 Timotius 2: 1-7), membangun hubungan tidak hanya dengan harta kekayaan tetapi jauh lebih penting juga adalah dengan kesatuan hati untuk saling mendoakan satu dengan yang lainnya. Dengan membangun hubungan baik dengan orang lain sejatinya menjadikan kita semakin mewartakan bahwa Tuhan kita adalah juga mengasihi semua orang, karena Tuhan kita adalah Tuhan semua orang juga.
  4. Kita ini pengelola bukan pemilik harta kekayaan. Jika saat ini kita memiliki harta, sesungguhnya itu semua bukan milik kita tetapi semua itu adalah harta Tuhan yang dipercayakan kepada kita supaya kita kelola. Dan sikap kita dalam mengelola harta kita itulah yang dinilai oleh Tuhan bukan besar atau kecilnya jumlah kekayaan kita. Menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah milik Tuhan, maka pasti menjadikan kita rendah hati dan tidak sombong dengan apa yang kita miliki. Menyadari bahwa semua yang kita miliki ini adalah milik Tuhan, maka membawa kita semakin rela mempergunakan harta kekayaan kita untuk memuliakan Tuhan.

 

Penutup

Jemaat yang dikasihi Tuhan, dalam bulan kitab suci ini kita diajak merenungkan kembali arti iman yang berdasarkan kitab suci kita. Dan hari ini kita diajari oleh firman Tuhan yang menegaskan kembali arti harta kekayaan dan cara mengelolanya. Sesungguhnya setiap orang pasti memiliki harta kekayaan. Jangan pernah katakan kita tidak punya jikalau ketidakpunyaan kita itu karena melihat harta orang lain. Tetapi mari melihat berkat yang kita miliki seraya bertanya pada diri sendiri: apakah harta berharga saya? Sungguhkah saya telah menjadikan berkat itu untuk memberkati orang lain? Sebab sesunggunya, Tuhan mengijinkan kita memiliki berkat berupa harta kekayaan itu untuk pula memberkati orang lain. Lebih dari semua harta kekayaan itu adalah bahwa Tuhan menghendaki kita memiliki iman yang memberkati orang lain. Mungkin kita jenuh dengan keadaan kita yang serba pas-pasan malah cenderung berkekurangan. Bahkan kita merasa malu karena kita tidak memiliki kekayaan seperti orang lain. Ingatlah saat ini, bahwa jangan pernah malu kepada orang lain tentang kekayaan yang anda miliki, tetapi malulah kepada Tuhan jikalau kita sudah diberi modal kekayaan tetapi tidak mampu mengelolanya. Jika kita sudah mengelolanya dengan benar sebagai pancaran iman kepada Tuhan Sang Pemberi Modal yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah mempermalukan kita sehingga berkatNya akan terus ditambahkan kepada kita.

Menjadi kaya adalah baik. Namun lebih utama dari semua itu adalah apakah harta kekayaan kita itu semakin menjadikan kita dekat kepada Kemah Abadi di mana kita akan tinggal di sana bersama Tuhan ataukah justru harta kekayaan kita semakin menjadikan kita jauh dari-Nya. Jika yang utama dalam kehidupan kita adalah menjaga sikap di hadapan Tuhan, maka harta kekayaan bukanlah tujuan utama karena tujuan utama kehidupan kita adalah hidup benar di hadapan Tuhan. Jika hidup kita benar di hadapan Tuhan pastilah harta kekayaan itu akan diberikan kepada kita. Karena itulah kita diingatkan kembali firman Tuhan yang demikian: Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21). Marilah kita mempergunakan berkat yang Tuhan berikan kepada kita untuk memberkati orang lain. Amin.

DOKUMENTASI  16-20 SEPTEMBER 2016

SUMBER

https://gkjw.or.id/rancangan-khotbah/khotbah-minggu-18-september-2016/

Share This:

Pardomuan Sitanggang

Tes

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Call Now Button