Apakah menunggu kena dulu, baru percaya C-19 itu nyata?

Saat ini saya masih dalam proses pemulihan dari C-19, hari ini adalah hari yang ke-14 saya diobati di sebuah RS ternama di Kota Kami. Dan kabar baiknya di hari ini istri saya dinyatakan sembuh dari Covid-19 dan dibolehkan pulang dari RS tempatnya dirawat. Genap 17 hari dia dirawat. Kami dirawat di RS yang berbeda.

Saya masuk RS awalnya karena saya ada gejala. Gejala yang saya rasakan sangat berbeda dengan sakit-sakit yang sebelumnya yang pernah saya derita. Badan saya terasa ngilu dan nyeri hampir di keseluruhan tubuh. Napas saya sesak, padahal sebelumnya saya tidak pernah sesak nafas. Batuk berdahak, mual, apa saja yang dimakan rasanya tidak enak, bahkan pahit.

Lebih dari seminggu sebelum saya masuk IGD, saya sudah mengalami gejala demam, batuk, dan lidah pahit. Namun karena di perumahan kami ada apotek, saya beli obat di situ saja tanpa berobat ke klinik atau RS karena saya pikir ini adalah demam biasa. Saya pun sudah mulai jaga jarak dengan siapapun untuk jaga-jaga, jangan-jangan saya ini Covid-19, kan kasihan yang lain. Makanya saya jaga jarak. Sempat saya sembuh, tapi hanya dua hari saja. Setelah itu makin parah yang saya rasakan. Musibah ini tak hanya menimpa saya, tapi juga istri saya. Di saat saya merasa sembuh tadi, saya membawa istri ke klinik, lalu dirujuk ke RS dan ternyata dia dinyatakan suspek Covid-19. Langsung dirawat di ruang isolasi. Gejalanya batuk dan sesak nafas. Saya urus semua keperluannya. Hingga jam 03.00 saya baru bisa pulang. Saya pulang karena sudah tak bisa lagi mendampingi istri karena dia dirawat di ruang isolasi. Tak boleh ditemani. Saya putuskan pulang, hampir subuh saya sampai di rumah. Di rumah, saya tidak langsung istirahat, tapi saya cuci semua perlengkapan tidur dan baju-baju kotor. Bahkan sebagian terpaksa saya buang karena saya tak sanggup mencuci semua dan apalagi istri dinyatakan suspek Covid-19. Syukurnya, anak kami sudah pisah tidur sejak kami mulai ada gejala.

Sudah tiga hari istri saya dirawat di RS. Saya pun selalu bolak balik mengurusi keperluannya. Tidak bertemu memang, tapi semua keperluannya bisa dititip melalui petugas RS. Namun di hari yg ketiga istri di RS, saya tak dapat lagi pergi ke RS karena saya bergejala lagi. Saya demam, mulut pahit. Bahkan makin parah. Makan tak ada yang enak. Nafsu makan drastis berkurang. Hingga akhirnya karena saya sudah tidak tahan, saya minta diantar oleh tetangga ke IGD salah satu RS yg terdekat dengan rumah kami. Anak saya yang memanggilkan tetangga tersebut. Saya masuk IGD sekitar pukul 16.00 wib. Saat itu saya benar-benar lemas. Tak berdaya. Saya langsung ditangani, dikasih infus dan oksigen. Yang paling saya khawatirkan adalah anak. Mamanya dirawat di RS, saya masuk IGD di RS yang berbeda. Wahhhhh. Yang lebih khawatir lagi saya adalah sejak 24 jam terakhir anak kami tidur dengan saya, bahkan dari pagi hingga sore anak saya menemani dan melayani saya karena terbaring lemas dan sakit di kamar. Tapi ya sudahlah, saya optimis anak pasti ada orang baik yang mengurusnya.

Sayup-sayup saya mendengar rundingan antara pihak RS dengan tetangga saya yang mengantarkan tadi. “Mana keluarganya?” Tanya pihak RS. “Saya abangnya, saya yang bertanggung jawab” jawab tetangga saya yang ngantar. Namun pihak RS tidak mau jika bukan keluarga inti (istri/ anak/ saudara kandung). Sedangkan istri saya sedang dirawat di RS lainnya di Pusat Kota. Anak saya tidak mungkin, dia masih belia, umurnya baru saja 10 tahun. Awalnya saya tidak mau melibatkan keluarga besar saya, takut mereka sedih. Namun karena permintaan pihak RS, saya telpon saudara saya. Kontan saja mereka cemas dan sangat khawatir. Apalagi yang dibicarakan oleh pihak RS adalah sakit ini sangat beresiko kematian. Pihak RS minta persetujuan dikebumikan secara protokol Covid-19 jika terjadi kematian. Dan saya mendengar itu. Kontan saja saya langsung menjawab “Saya siap dikubur secara Covid-19, yang penting sekarang obati saya dulu.” Saya minta lebih intensif lagi menangani pengobatan saya.

Sudah beberapa jam saya di IGD RS ini, sakit yang saya rasakan tak juga kunjung berkurang. Saya hanya terbayang kematian. Tidak ada gunanya harta di dunia ini. Hanya itu yang terbayang, yaitu kematian. Semangat saya menurun. Lalu di tengah malam saya merasakan lapar. Itu menandakan ada semangat yang tumbuh. Ya lapar. Saya minta ke adik saya yang menemani di luar untuk membelikan nasi. Saya dibelikan ayam penyet sesuai pinta saya. Tapi hanya dua suap yang masuk, itupun sudah saya paksa. Apa saja yang saya makan rasanya tak ada yang enak. Bahkan air putih pun tak enak. Saya minta air putih hangat. Alhamdulillah sedikit melegakan.

RS tempat saya masuk IGD ini ternyata ruang ICCU dan atau ruang isolasi Covid-19 nya penuh terisi. Sementara saya makin mengerang kesakitan. Petugasnya berusaha mencari RS rujukan yang masih ada slot kosong untuk pasien suspek Covid-19. Berulang-ulang saya diminta sabar oleh petugas RS karena semua RS rujukan saat ini penuh semua. Sementara saya makin mengerang kesakitan.

Tiba-tiba sekitar pukul 02.00 dini hari ada khabar baik, petugas menyampaikan ada slot yang didapatkan dan itu di sebuah RS yang ternyata itu juga RS terbaik di Kota Kami. Mendengar itu semangat saya memuncak. Saya dirujuk ke RS yang itu. Saya diantar naik ambulance di tengah malam dini hari. Di dalam ambulance saya sendirian terbaring tak berdaya ditambah saya mendengar raungan suara ambulance. Hadeeehhh Ya Allah. Biasanya saya cuman mendengar dan melihat ambulance, sekarang saya yang di dalamnya. Satu jam perjalanan.

Sampai di RS rujukan, saya ditangani dengan baik secara intensif. Petugasnya menyampaikan ke saya “bapak beruntung cepat dibawa ke RS dan lebih beruntung lagi kami ada slot yang tiba-tiba kosong karena pasien sebelumnya dipindahkan ke ruang yang lain karena keadaan pasien itu semakin baik”. Wah mendengar itu seakan semangat saya untuk sembuh makin menggelora. Ditambah lagi dengan do’a-do’a dari keluarga, tetangga, sahabat, teman , dll. Baik yang di Batam maupun yang di luar Batam.

Saya ditangani sangat baik di RS ini. Sedikit saja saya mengerang, langsung perawatnya datang untuk melayani dan memberi semangat. Semangat itu terus tumbuh seiring dengan semakin berkurangnya gejala dan sakit yang saya rasakan. Sekitar lima hari penanganan intensif terhadap saya, Alhamdulillah hampir semua gejala yang saya rasakan sebelumnya pulih. Saya semakin sehat. Alhamdulillah. Hingga akhirnya saya copot selang oksigen, saya merasa tidak perlu lagi meskipun perawat tetap meminta saya untuk memakai oksigen. Tapi tetap saya lepas. Saya merasa sembuh. Hanya tinggal batuk saja. Akhirnya saya dicek oksigen tubuhnya tanpa oksigen bantuan. Ada lima kali dalam sehari itu dicek. Alhamdulillah hasilnya selalu normal oksigen di dalam tubuh yang tanpa bantuan, akhirnya saya dibolehkan tanpa oksigen bantuan. Saya bernafas biasa dan sesak pun sudah tak ada.

Selama saya dirawat, saya menyaksikan sendiri, setiap ruangan penuh terisi dengan pasien Covid-19. Ada yang saat masuk kelihatan biasa, lalu beberapa hari kemudian makin bertambah banyak saja peralatan medis yang dipasangkan ke tubuhnya. Itu artinya dia makin parah sakitnya. Ada juga yg saya lihat awalnya parah, lalu semakin membaik. Kalau pasien yang meninggal dunia saya tidak tau. Tapi ada yang sebelum tidur saya lihat ada pasien di sana, tiba-tiba saat saya bangun subuh sepertinya sudah berganti dengan pasien yang lain. Entah bagaimana keadaan pasien sebelumnya. Saya dapat melihat karena sekat ruangan ada sekat yang menggunakan kaca.

Saya tak mungkin dapat menceritakan semuanya. Termasuk di saat-saat masa sulit dan kritis yang saya alami. Belum lagi cerita tentang anak saya yang masih belia terpaksa menjalani isolasi mandiri di rumah tanpa didampingi oleh orang dewasa atau temannya di dalam rumah. Ya Allah. Saya sangat maklum tidak ada yang menjaganya atau menemaninya di dalam rumah. Hal ini demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Hal ini terjadi empat hari sampai hasil swab tes anak saya keluar dengan hasil negatif. Sejak hasilnya negatif barulah ananda ada teman tidurnya. Hadeeeehhhhh ini sangat sedih dan menyentuh bangat bagi kami.

Initinya, saya menghimbau kepada siapapun yang membaca tulisan saya ini. Jangan sampai kalian terkena Covid-19. Patuhilah protokol kesehatan. Patuhilah himbauan pemerintah. Jika kalian sudah melindungi diri dan keluarga secara benar menurut protokol kesehatan lalu masih terpapar juga, itulah kehendak Allah SWT. Yang penting kita selaku manusia biasa harus ada upaya dan ikhtiar untuk melindungi diri dan keluarga agar terbebas dari Covid-19.

Dan bagi kalian yang saat ini sedang terpapar Covid-19, tak perlu panik. Terpapar Covid-19 bukanlah sebuah aib, tak perlu malu. Saya justru memberitahukan di beberapa grup WhatsApp saya dan saya juga menjelaskan kepada sesiapa yang japri atau inbok. Tak usah takut, ingat saja kematian itu dengan baik, kematian itu nyata dan akan dialami oleh setiap orang, berbaik sangka lah kepada Allah SWT, bahwa setiap sakit pasti ada obatnya. Bahwa setelah kesusahan akan datang kebahagiaan. Allah SWT tidak akan menguji hambanya melebihi kesanggupannya. Karena dengan mengingat itu akan semakin kencang dzikir dan istighfar baik di mulut atau dalam hati. Selalu berdo’a. Ikuti saran perawat dan dokter yang merawat anda. Makanlah makanan yang ada, bila kurang enak menurut selera minta izinlah ke perawat apakah dibolehkan makanan dari luar. Saya kebetulan dibolehkan, jadi itulah yang membuat selera makan saya perlahan tumbuh. Terimakasih kepada saudara-saudara saya yang selalu menanyakan mau makan apa dan diantar. Dan terimakasih juga ke sahabat yang menganggap saya ini saudaranya sehingga tak putus-putusnya makanan diantar.

Saya kasihan melihat petugas medis dan para perawat yang melayani pasien covid 19. Mereka saya lihat sangat tulus melayani dan itu bersamaan dengan resiko yang amat besar bisa saja menimpanya. Marilah kita patuhi protokol kesehatan.

Jangan pernah anda mengatakan Covid-19 itu hoak, Covid-19 itu setingan. Hah???? Apakah perlu anda terpapar dulu, baru anda akan percaya? Pilu. Pilu. Pilu.

Jika tak punya rasa empati paling tidak jagalah lisan untuk tidak menyakiti. Bisa jadi hari ini anda belum mengalami dan bukan tidak mungkin atas kuasa Allah anda mengalami sakitnya kena Covid-19. Keluarga anda akan panik. Panik. Panik. Dan bisa berantakan.

Sesekali jangan anda mengatakan bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi dan sebagainya. Yang saya alami adalah Covid-19 ini nyata yang hampir saja merenggut nyawa saya. Saya terpisah dari seluruh keluarga. Bahkan anak saya tidur sendirian di rumah menjalani isolasi mandiri, padahal umurnya 10 tahun.

Pastinya tidak satupun diantara kita yang mau meninggal sebagai pasien Covid-19, karena jika itu terjadi keluarga anda akan sangat sedih. Sangat sedih. Dia tidak akan pernah bisa melihat wajah anda untuk yang terakhir kalinya sekalipun meskipun di saat anda sudah menjadi jenazah. Tidak akan ada yang membacakan Yasin atau do’a di samping jenazah anda. Tidak akan ada keluarga atau rekan sejawat anda atau tetangga anda yang akan memandikan jenazah anda. Tidak akan ada iring-iringan orang mengantarkan jenazah anda ke tempat penguburan. Tidak ada. Tidak akan ada. Tidak akan ada. Bukan mereka tidak peduli, tapi ini demi kebaikan bersama memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tidak ingin mati Covid-19 kan????? Maka sekali lagi lakukanlah upaya untuk memproteksi diri dan keluarga agar terhindar dari paparan virus corona. Patuhi himbauan pemerintah, ikuti protokol kesehatan.

Sekali lagi, jangan pernah mengatakan Covid-19 hoak atau bohong. Ini nyata. Saya sedang mengalaminya. Hanya saja sekarang sudah hampir sembuh. Saya berdo’a semoga manusia-manusia pencela di luar sana sadar sebelum dia atau keluarganya berada di dalam sini tempat pesakitan. Bermohonlah kepada Allah SWT agar dijauhkan dari wabah ini. Sayangi diri, keluarga dan orang-orang di sekeliling kita.

Mari kita belajar untuk menjadi orang yang peduli bukan pembuli.

Dari Saya Pasien Covid-19 di Batam.
Fiter Fernendes.

Semoga pengalaman saya ini bermanfaat bagi yang mau membacanya.

Sumber : Chat WA Grub

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *